BELUM PERCAYA DIRI
BELUM PERCAYA DIRI
Tetap saja aku bingung dan gugup jika akan memulai menulis. Sekecil dan sesingkat apapun tulisan itu, jika bukan untuk konsumsi pribadi aku tetap tidak percaya diri. Berbeda sekali ketika aku menuliskan sesuatu di buku harianku. Tanpa berfikir panjang, kalimat demi kalimat tersusun hingga paragraf ke paragraf terbentuk dengan cepat.
Seperti pada saat ini, aku beranikan diri untuk menulis sebagai langkah awal belajar menekuni keterampilan di bidang literasi. Berharap suatu saat nanti bisa kreatif seperti sahabat-sahabat yang ada pada grup "Kapal".
Sengaja hari ini aku pulang lebih awal, dengan harapan ingin duduk di "SS2 goreng pisang" salah satu tempat nongkrong favoritku yang ada di Sunway Putra Mall pada tingkat 4, sambil menulis sesuatu yang selama ini kutakutkan.
Aku memesan teh tarik yang tidak terlalu manis, dan kupilih sepotong keladi goreng dan sepotong pisang goreng yang disajikan dengan saus pedas dengan rasa yang sangat unik. Setelah semua pesanan sampai di mejaku, kuambil handphone yang aku simpan di dompet kulit merek Jeep yang kondisinya sekarang sudah tidak layak, karena sudah dua tahun lalu aku beli, ketika ada kunjungan ke Batam.
Aku mulai mengetik hingga terbentuk kata, kubaca ulang dan kuhapus, mengetik satu kalimat, aku hapus lagi, hingga sudah hampir tiga puluh menit belum ada satu kalimat pun yang bertahan di layar handphoneku. Hatiku berkecamuk serta anganku menggoda hingga berkata-kata dengan nakalnya, "pasti tulisan yang kau buat akan menjadi bahan tertawaan sahabat-sahabatmu yang ada di grup Kapal. Bukankah mereka semua orang-orang yang kreatif? Atau mungkin mereka akan mengabaikan tulisan anehmu karena makna yang ingin disampaikan dalam tulisanmu amburadul tak tahu arah. Atau malah begitu dikirim ke grup kapal, mereka akan langsung menghapusnya tanpa membaca sedikitpun.
Aku ragu, hingga handphoneku aku masukkan lagi ke dalam dompet Jeep kulit yang menganga karena kancing magnetnya sudah hilang ketika aku jalan-jalan di Sogo, Kuala Lumpur tiga hari yang lalu.
Ku buka lagi aplikasi WhatsApp yang ada di handphone ku, dan aku klik grup Kapal serta kubaca komentar sahabat-sahabat yang ada di grup itu. Semuanya memberi semangat, dan saling menyemangati, oh aku benar-benar galau.
Ku seruput lagi teh tarik yang sudah dingin, sebab energi kalor yang tersimpan di dalamnya keburu melepaskan diri ke udara menuju ruang yang memiliki suhu lebih rendah. Perlahan-lahan semangat untuk belajar menulis kembali menggelitik dan menguasai syaraf-syaraf otakku, sehingga otakku memerintahkan tanganku untuk mengambil handphone yang sudah bersemayam manja di dalam dompetku, laksana gadis desa yang duduk manis di atas dipan bambu di serambi rumah.
Ku ketik kata demi kata, kali ini aku tidak menghapusnya. Ku bayangkan wajah Pak Kalbar dan Bu Farida Pasaribu yang selalu menyemangati aku untuk menulis, disetiap makan malam yang kami lalui.
Lagi-lagi hatiku berkecamuk dan menggoda manja dengan dosis stadium akhir, agar aku menyudahi dan menghentikan keinginanku untuk menulis ditambah lagi potongan keladi goreng yang masih kumakan sepertiga bagiannya saja. Namun aku tidak menghiraukan. Kutulis dan kutulis hingga tanpa sadar sudah berada dalam paragraf ke-sembilan. Oh aku berhasil! Teriakku dalam hati, terimakasih Pak Kalbar dan Bu Farida ini adalah tulisanku yang pertama. Jangan berhenti membimbingku ya! Semoga ini menjadi amal bagi bapak dan ibu. Aammiin.
Romi,
SPM, 07 Maret 2018
Komentar
Posting Komentar